Friday, December 16, 2011

Sukses Beternak Marmut

EcoBALL
Marmut atau juga disebut guiena atau cavies merupakan jenis ternak rumah tangga yang cukup familiar dikalangan pedesaan, dari keuntungan mengelola peternakan ini saat ini hanya banyak dimanfaatkan daging dan kotorannya serta cara pemeliharaan yang kurang baik, salah satunya sifat ternak ini yang agak susah diatur cara makannya. Biasanya mereka makan ditumpukan rumput sehingga jika rumput sudah terkena kotoran mereka tidak mau makan dan minta yang baru, hal ini bisa disiasati, berikut ini pengalaman peternak marmut didaerah banteng kecamatan kejajar wonosobo.

Dikalangan peternak di sana pengelolaan ternak marmut memiliki perhatian yang cukup serius dari sisi tata laksana perkandangan hingga perawatan. Dinilai dari sisi ekonomis daging marmut mulai dilirik orang sebagai bahan makanan berupa daging sehingga tidak heran jika Anda keluar dari pasar Kejajar sebelah kanan jika Anda dari bawah Anda akan menemui sebuah rumah makan yang menyediakan khusus daging marmut dengan menu khas daerah dingin seperti, rica-rica, tongseng, gulai, dan sate marmut. Selain di sana Anda bisa menjumpai di terminal Mendolo dan Sawangan hanya saja tidak sebagaimana di Kejajar yang memang khusus menyediakan masakan daging marmut, sehingga tidak heran peternakan marmut mulai berkembang di sana.
Dari salah satu peternak yang saya temui dia memelihara sekitar 60 ekor belum lagi ditempat kakaknya dan tetangga yang lain, kesuksesan beternak marmut ini juga dirasakan seorang guru SD di kecamatan Kertek yang setiap minggu menerima pesanan 80 ekor untuk pasokan Jogja sehingga ada beberapa petani yang memelihara 1500 hingga 3000 ekor.
Baca artikel terkait Panduan Beternak Marmut Online di sini :

No comments:

Post a Comment